Mencari Nafkah Di Kampus Kristen

Penulis By Muis S. A. Pikahulan. SH.I.,MH Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Keagamaan IAKN Ambon.   |   24 September 2019   |   dilihat 937 Kali

Memperingati momentum hari lahir pancasila saya ingin menulis pengalaman saya mencari nafkah di kampus Kristen, kampus yang menunjukan nilai nilai Pancasila secara nyata.  Seleksi penerimaan CPNS tahun 2018 memberikan saya pilihan untuk mendaftar di kampus mana saja, selama kampus itu masih berada dibawah lingkup Kementerian Agama Republik Indonesia (selanjutnya disebut Kemenag). Dengan latar belakang Magister Hukum, maka saya bisa menjadi salah satu calon peserta yang memenuhi syarat qualifikasi untuk menjadi calon dosen di salah satu kampus yang memakai logo ikhlas beramal.

Sebelumnya saya adalah tenaga Non PNS di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Imam Rijali Ambon, saya mengajar di Fakultas Syari’ah dan Ekonomi Islam pada beberapa jurusan, mata kuliah yang saya ampuh adalah Etika Profesi Hukum. Sejak tahun 2014 saya mengajar sebagai dosen luar biasa, dan pada tahun 2017 saya kemudian mengikuti seleksi penerimaan dosen bukan PNS IAIN Ambon. Pada pertengahan tahun 2018 saya mendaftarkan diri saya untuk mengikuti seleksi penerimaan Dosen CPNS di Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Ambon, Alhamdulillah saya  menjadi peserta yang lulus tes dengan teman teman yang lain. Saya  diberikan hombase di Fakultas Ilmu Sosial dan Keagamaan, kemudian  ditempatkan di jurusan Teologi/ Kajian Teks.

Mata kuliah yang saya ampuh untuk pertama kalinya di IAKN Ambon adalah Manajemen Pelayanan Publik, saya menjadi asisten dari Ibu Wakil Rektor II IAKN Ambon, namun saya mengalami kesulitan dalam membawa mata kuliah tersebut dikarenakan displin imu saya tidak sama sekali mempunyai korelasi dengan mata kuliah itu. Kemudian pada semester berikutnya saya dipercayakan oleh beberapa Prodi di Fakultas Ilmu Sosial Keagamaan untuk mengampuh mata kuliah Pancasila dan Pendidikan Kewarganegaraan, mata kuliah yang dulu juga saya ampuh semasa menjadi dosen luar biasa di IAIN Ambon.

Sebelum saya mendaftarkan diri di IAKN Ambon, ada sedikit terbersit keraguan dihati keluarga, yang mengkhawatirkan saya di kampus IAKN, hal ini merupakan sesuatu yang lumrah disebabkan aroma konflik masa lalu sering tercium ketika masyarakat antara dua komunitas ini mendiami salah satu wilayah yang berbeda dengan komunitasnya. Ambon memang membara pada dekade 90-an, namun sekarang yang ada hanyalah kesejukan dan keindahan disetiap sisi kota. Interaksi antar komunitas yang berbeda agama sudah tidak lagi kaku dan njelimet, semua kompenen masyarat secara kultural berjamur dan berbaur dalam satu dapur budaya, semangat Lawa Mena Hau Lala, Ale Rasa Beta Rasa, Potong di Kuku Rasa di Daging, dan Sagu Salempeng Dipatah Dua menjadi cambuk sosial bagi kehidupan antar dua komunitas, konsep rasa cinta antar sesama yang berasal dari Tuhan dan disederhanakan oleh Aris Toteles dengan sebutan “Delicto Proximi” sudah menjalar dalam setiap denyut nadi masyarakat Kota Ambon. Hingga penyeleksian CPNS, tidak ada keraguan bagi masyarakat Kota Ambon untuk mendaftar di instansi – intansi keagamaan yang berbeda. Bahkan peserta  dari luar Kota Ambon pun tidak sedikit yang memilih mendaftar di instansi yang berbeda keagamaan dengan mereka.

Di Kampus IAKN sebelum saya dan beberapa teman Muslim yang lain mendaftarkan diri untuk menjadi dosen CPNS, sudah ada satu perempuan Muslim yang menjadi dosen tetap dengan mata kuliah Bahasa Inggris di kampus tersebut. Hal ini menunjukan kita bukan orang Muslim pertama yang akan mengabdi dan mencari sesuap nasi untuk sanak keluarga di Kampus Kristen. Dengan bertambahnya kami empat orang tenaga dosen dan pegawai yang beragama Islam, Institut Agama Kristen Negeri Ambon pun memliki empat orang dosen dan satu pegawai yang bergama Islam. Suatu pencapaian toleransi yang tinggi di Kota yang dulunya selalu mengepulkan asap konflik. Di lain sisi, IAKN Ambon adalah satu – satunya Kampus Negeri Keagamaan Kristen yang menerima tenaga pengajar tetap dan pegawai yang beragama diluar dari pada Kristen, karna selain kami yang Muslim, ada juga teman kami yang beragama Katolik diterima juga di Kampus ini, suatu penecapaian peradaban bagi Kampus yang berjulukan “HARMONI DALAM PERBEDAAN” ini.

Pada setiap bulan Ramadhan seluruh komponen civtas akademika IAKN Ambon selalu menghormati kami yang muslim, baik dari kalangan tenaga pengajar, pegawai dan mahasiswa. Kami pun selalu menghormati mereka dengan mempersilahkan mereka melakukan aktifitas sehari hari seperti biasa, IAKN merupakan laboratorium akademik yang multikultural dan relegius, di kampus ini nilai nilai Pancasila yang sering dibicarakan dialami secara nyata diantaranya, toleransi, gotong royong dan rasa cinta antar sesama.  Pancasila yang tadinya hanya berupa teks kalimat, kata dan huruf, dapat kita rasakan di kampus IAKN.

Pancasilah  haruslah memang dapat teraplikasikan disetiap ruang ruang akademik, khususnya di kampus kampus yg bernauh dibawah perguruang tinggi keagamaan. Semoga dengan adanya kita yang berlatar belakang Muslim di kampus IAKN Ambon, semakin membangkitkan semangat persaudaraan antar sesama di kota ambon, sekarang tak ada lagi sekat, tak ada lagi perdamaian yg semu, semuanya atas nama Pancasila rasa cinta antar sesama, potong dikuku rasa didaging, sagu salempeng dipatah dua, semuanya terbungkus rapi dalam sayap Garuda, Iinstitut Agama Kristen Negeri (IAKN) Ambon sebagai kampus percontohan orang basudara, semoga masyarakat Kota Ambon selalu hidup dibawah naungan persaudaraan yang hakiki sebagaimana telah dirintis oleh para pendahulu kami, sehingga kota Ambon manise akan selalu manis dalam setiap peradabannya.  Selamat Hari Pancasila.

Penulis :  Muis  S. A. Pikahulan. SH.I.,MH Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Keagamaan IAKN Ambon.

Sumber : https://terasmaluku.com/mencari-nafkah-di-kampus-kristen-oleh-muis-s-a-pikahulan-sh-i-mh/

Partner