[INFORMASI] Edaran Cuti Bersama - 16 Sep 2026 00:00 • [INFORMASI] Pengumuman Penjaringan Bakal Calon Wakil Rektor, Dekan, Wakil Dekan, Direktur, Wakil Direktur, Ketua Program Studi, Ketua Lembaga, Kepala UPT dan Kepala SPI IAKN Ambon Periode 2026 - 2030 - 22 May 2026 00:00 • [PENTING] Pengumuman Peniaringan Bakal Calon Wakil Rektor, Dekan, Wakil Dekan, DireKur, Wakil Direktur, Ketua Program Studi, Ketua Lembaga dan Kepala UPT IAKN Ambon Periode 2026 - 2030 - 21 May 2026 00:00 •
Beranda / Berita / World Tourism Day 2026 di Hila Dorong Gerakan Pariwisata Berkelanjutan melalui Pelestarian Alam dan Warisan Budaya
Pengabdian Kepada Masyarakat 26 September 2026 16 dilihat

World Tourism Day 2026 di Hila Dorong Gerakan Pariwisata Berkelanjutan melalui Pelestarian Alam dan Warisan Budaya

World Tourism Day 2026 di Hila Dorong Gerakan Pariwisata Berkelanjutan melalui Pelestarian Alam dan Warisan Budaya

Hila, Maluku Tengah, 26 September 2026 — Peringatan World Tourism Day 2026 di Negeri Hila, Kabupaten Maluku Tengah, menjadi momentum untuk memperkuat gerakan bersama dalam mewujudkan pariwisata berkelanjutan di Maluku.

2VFMe6Hz8SgzQGbEdIBOQ55gho2op0JC34qcFoQT.jpg

Mengusung tema “Sustainable Tourism Movement” dengan tagline “Merawat Alam, Melestarikan Budaya, Menguatkan Masyarakat”, kegiatan yang dipusatkan di kawasan Benteng Amsterdam, Negeri Hila, pada Sabtu, 26 September 2026, mempertemukan unsur pemerintah, perguruan tinggi, lembaga pelestarian budaya, masyarakat, sekolah, serta pihak swasta dalam satu gerakan bersama.

ddpufKunj2hMbj16rF5F9rPy4f0mnM079wTm0xPs.jpg

Kegiatan ini merupakan kolaborasi IAKN Ambon, Dinas Pariwisata Provinsi Maluku, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Maluku, Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah, Pemerintah Negeri Hila, dan Pemerintah Negeri Kaitetu, dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat dan generasi muda.

Peringatan World Tourism Day 2026 di Hila turut dihadiri oleh Rektor IAKN Ambon, Dr. Elka Anakota, M.Si., Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XX Maluku, Dody Wiranto, S.S., M.Hum., serta Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Maluku yang diwakili oleh Kepala Bidang Ekonomi Kreatif.

iG8hLq67gldQO0XNQhV2ANKJdaTIKEEgPf5dGnu0.jpg

Hadir pula Pejabat Pemerintah Negeri Hila, Raja Negeri Kaitetu, Wakil Rektor I IAKN Ambon Dr. Herly Lesilolo, Dekan Fakultas Ilmu Sosial Keagamaan (FISK) IAKN Ambon Dr. Sipora Warella, serta perwakilan STIKES Maluku Husada Program Studi K3.

Keterlibatan generasi muda juga terlihat melalui kehadiran siswa dari SMA Negeri 18 Maluku Tengah, SMA Negeri 26 Maluku Tengah, MAS Nurul Tsaqalain Hila, SD Negeri 198 Maluku Tengah, dan SD Negeri 295 Maluku Tengah.

fSkwmcNeCjuwz2hQf7OsKvtdjHyDeZAJFkNAt22r.jpg

Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa agenda pariwisata berkelanjutan membutuhkan keterlibatan lintas sektor dan lintas generasi.

Salah satu agenda penting dalam kegiatan ini adalah diskusi mengenai ekosistem pesisir dan manfaatnya bagi kelangsungan hidup masyarakat pesisir, yang dibawakan oleh Dr. Renoldy Papilaya, M.P.

Diskusi memberikan ruang edukasi bagi peserta untuk memahami bahwa kawasan pesisir bukan hanya memiliki nilai estetika sebagai daya tarik wisata, tetapi juga memiliki fungsi ekologis dan sosial yang berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat.

nECSLPZcoLGuWwpqAuW1af8Kt8UckyWzQEcDJqjU.jpg

Ekosistem pesisir memiliki keterkaitan dengan berbagai aktivitas masyarakat, sehingga keberlanjutannya menjadi bagian penting dalam pengembangan destinasi wisata yang bertanggung jawab.

Melalui diskusi ini, peserta diajak melihat bahwa pengembangan pariwisata harus berjalan seiring dengan upaya menjaga ekosistem yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat dan daya tarik destinasi.

World Tourism Day 2026 tidak hanya diisi dengan kegiatan seremonial, tetapi juga diterjemahkan melalui berbagai aksi nyata di lapangan.

Peserta melakukan aksi bersih kawasan pesisir sebagai bentuk kepedulian terhadap kebersihan dan keberlanjutan lingkungan. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penanaman dan pembibitan mangrove sebagai bagian dari upaya edukasi konservasi ekosistem pesisir.

Sementara itu, pada ekosistem laut dilakukan kegiatan pembibitan karang yang dilaksanakan melalui kolaborasi dengan Spice Island Divers & Resort.

Keterlibatan Spice Island Divers & Resort menjadi bagian penting dalam kegiatan ini karena menunjukkan kontribusi pihak swasta dalam mendukung pelestarian lingkungan dan keberlanjutan destinasi wisata.

Kolaborasi tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa tanggung jawab terhadap keberlanjutan pariwisata tidak hanya berada pada pemerintah dan masyarakat, tetapi juga membutuhkan keterlibatan dunia usaha dan pelaku industri pariwisata.

Aspek lingkungan dalam kegiatan ini berjalan beriringan dengan pelestarian warisan budaya.

Peserta mengikuti Heritage Walk dengan mengeksplorasi kawasan bersejarah di Negeri Hila, termasuk Benteng Amsterdam dan Gereja Tua Hila.

1vwXx38fPaWZHUhkITBGOHkVZjLG7mUc4EO4Bwmt.jpg

Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya diajak melihat bangunan bersejarah sebagai objek wisata, tetapi juga memahami nilai sejarah dan budaya yang melekat pada kawasan tersebut.

Pendekatan ini menjadi bagian dari upaya membangun pariwisata yang tidak memisahkan antara alam, budaya, sejarah, dan kehidupan masyarakat lokal.

Kegiatan juga diwarnai dengan refleksi ekoteologi yang mengajak peserta melihat pelestarian lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab manusia dalam merawat ciptaan.

Pendekatan ekoteologi menjadi salah satu perspektif yang digunakan untuk membangun kesadaran bahwa menjaga lingkungan bukan hanya persoalan ekologis, tetapi juga berkaitan dengan nilai moral, spiritual, dan tanggung jawab bersama.

Dengan demikian, gerakan pariwisata berkelanjutan di Hila–Kaitetu diarahkan untuk membangun hubungan yang lebih harmonis antara alam, manusia, budaya, nilai spiritual, dan aktivitas pariwisata.

Salah satu momen utama dalam rangkaian World Tourism Day 2026 adalah Deklarasi Bersama untuk Pelestarian Lingkungan dan Warisan Budaya dalam Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan di Maluku.

Deklarasi tersebut dituangkan dalam akta narasi dengan pernyataan: “Kami siap bersama-sama mendukung pelestarian lingkungan dan warisan budaya dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan di Maluku.”

gOnpqBvoIy4ZzlFIlJImmkbW8iGz9sX1IGPwXA5O.jpg

Pernyataan tersebut menjadi simbol komitmen bersama seluruh pihak yang terlibat untuk menjadikan pelestarian lingkungan dan warisan budaya sebagai bagian penting dalam pengembangan pariwisata di Maluku.

Deklarasi juga menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga pelestarian budaya, masyarakat, generasi muda, serta dunia usaha dalam menjaga keberlanjutan destinasi.

Melalui seluruh rangkaian kegiatan tersebut, Hila–Kaitetu menjadi ruang pembelajaran bersama mengenai bagaimana pariwisata dapat dikembangkan dengan tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan keberadaan warisan budaya.

World Tourism Day 2026 diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan peringatan, tetapi dapat menjadi momentum untuk membangun gerakan berkelanjutan melalui edukasi, konservasi, pelestarian budaya, pemberdayaan masyarakat, dan kolaborasi multipihak.

Bagi perguruan tinggi, kegiatan ini juga menjadi ruang untuk menghubungkan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dengan persoalan nyata yang dihadapi destinasi. Sementara bagi generasi muda, kegiatan ini menjadi kesempatan untuk mengenal lingkungan dan waris…