Selamat datang di website kami
Beranda / Berita / Wisuda 161 Lulusan, IAKN Ambon Didorong Perkuat Mutu Akademik dan Daya Saing Global
Wisuda 27 October 2026 29 dilihat

Wisuda 161 Lulusan, IAKN Ambon Didorong Perkuat Mutu Akademik dan Daya Saing Global

Wisuda 161 Lulusan, IAKN Ambon Didorong Perkuat Mutu Akademik dan Daya Saing Global

AMBON, 27 Oktober 2026 — Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Ambon mewisuda 161 lulusan program sarjana dan pascasarjana pada Periode II Tahun 2026. Momentum yang dirangkaikan dengan Dies Natalis ke-8 IAKN Ambon itu menjadi pengingat bagi perguruan tinggi tersebut untuk memperkuat mutu akademik, mengembangkan sumber daya manusia unggul, dan menyiapkan lulusan menghadapi perubahan global.

Dalam sidang senat terbuka yang berlangsung di Auditorium IAKN Ambon Rektor IAKN Ambon Elka Anakotta, menegaskan pentingnya membangun institusi pendidikan tinggi yang adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan, tradisi, dan keluhuran budaya.

Menurut Elka, globalisasi menuntut perguruan tinggi meningkatkan daya saing melalui penguatan literasi digital, kemampuan beradaptasi, serta pembelajaran sepanjang hayat. Perguruan tinggi, katanya, tidak cukup hanya membekali mahasiswa dengan pengetahuan selama perkuliahan, tetapi juga harus menumbuhkan kemampuan untuk terus belajar dan mengembangkan diri setelah lulus.

Sebanyak 161 lulusan yang diwisuda berasal dari berbagai program studi, yakni Pendidikan Agama Kristen sebanyak 46 orang, Bimbingan Konseling Kristen 18 orang, Pendidikan Kristen Anak Usia Dini 54 orang, Teologi 15 orang, Agama dan Budaya dua orang, Pariwisata Agama dan Budaya enam orang, Musik Gereja tiga orang, Pendidikan Seni Musik tujuh orang, Magister Pendidikan Agama Kristen sembilan orang, serta Magister Musik Gereja satu orang.

Dua lulusan meraih predikat terbaik dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 4,00, masing-masing dari program studi Teologi dan Pendidikan Musik Gereja.

Elka mengingatkan para wisudawan bahwa gelar akademik bukanlah akhir dari proses pendidikan. Bekal yang diperoleh di bangku kuliah harus terus dikembangkan agar mereka mampu menghadapi dinamika masyarakat, dunia kerja, dan perubahan teknologi.

“Teruslah belajar, teruslah terbuka, dan teruslah mengembangkan diri sehingga mampu bertahan dalam perubahan dan tidak tergerus oleh zaman,” demikian pesan Rektor kepada para lulusan.

hZkUt8VU2LqwdODueyLjVKjcP70EGKEMlgAKt4MG.jpg

Ia juga menekankan bahwa kontribusi lulusan harus diwujudkan melalui kemampuan menjawab persoalan masyarakat, gereja, dan bangsa. Dalam pandangannya, kualitas sumber daya manusia tidak hanya diukur dari kecakapan intelektual, tetapi juga dari kemampuan bekerja sama lintas disiplin serta menghormati martabat sesama manusia.

“Cara kita memuliakan Allah adalah dengan memanusiakan manusia,” ujarnya.

Elka turut menyampaikan apresiasi kepada orang tua, keluarga, dosen, tenaga kependidikan, dan seluruh pihak yang mendukung perjalanan pendidikan para wisudawan. Ia berharap para lulusan mampu membawa nilai-nilai yang diperoleh selama studi ke tengah masyarakat.

Iman, ilmu, dan transformasi kehidupan

Dalam orasi ilmiah pada rangkaian kegiatan tersebut, Prof. Dr. Thomas Pentury, M.Sc., mengangkat tema integrasi iman, keunggulan ilmu, dan transformasi kehidupan. Ia menempatkan ketiga unsur itu sebagai landasan untuk membangun sumber daya manusia unggul menuju masyarakat yang maju dan berdaya.

Menurut Thomas, iman, ilmu, dan perubahan sosial tidak otomatis berjalan beriringan. Produktivitas penelitian yang meningkat, misalnya, belum tentu menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat apabila hasilnya tidak diterapkan dan dievaluasi secara tepat.

Karena itu, perguruan tinggi perlu membangun hubungan yang kuat antara refleksi kritis, penelitian, pembelajaran, pengabdian kepada masyarakat, dan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.

2m15KP4P9JXnZe0kT6xhUx9FVrh2FQFnb5GfjaUf.jpg

Ia menekankan bahwa keunggulan ilmu bukan semata-mata terletak pada banyaknya penelitian atau publikasi akademik, melainkan juga pada kemampuan memahami persoalan dan menghasilkan jawaban yang relevan bagi kehidupan masyarakat.

Dalam konteks pendidikan tinggi Kristen, integrasi iman dan ilmu harus tercermin dalam penghormatan terhadap martabat manusia, pembentukan karakter, serta tanggung jawab sosial. Pengetahuan perlu dikembangkan melalui argumentasi dan bukti ilmiah, sedangkan penerapannya harus mempertimbangkan kebutuhan serta kondisi masyarakat.

Pandangan tersebut menjadi relevan bagi IAKN Ambon dalam mengembangkan pendidikan yang berakar pada konteks Maluku, sekaligus terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan tantangan global.

Kemenag tekankan empat prioritas penguatan kampus

Penguatan mutu akademik, kapasitas dosen, relevansi keilmuan, serta tata kelola menjadi empat pesan utama Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Kementerian Agama, Jeane Marie Tulung, dalam sambutan yang dibacakan secara virtual oleh Direktur Pendidikan Kristen, Suwarsono.

Pesan itu disampaikan dalam rangkaian sidang senat terbuka wisuda dan Dies Natalis ke-8 IAKN Ambon.

Pertama, IAKN Ambon diminta menempatkan mutu akademik sebagai dasar pengembangan institusi. Kemajuan perguruan tinggi, menurut pesan tersebut, tidak cukup diukur dari pertambahan gedung, program studi, atau jumlah mahasiswa. Peningkatan kualitas pembelajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan kompetensi lulusan harus menjadi tolok ukur utama.

Penguatan sistem penjaminan mutu internal, akreditasi, evaluasi program studi, serta penerapan kurikulum berbasis capaian pembelajaran juga dinilai penting agar proses pendidikan menghasilkan kompetensi yang benar-benar dibutuhkan.

“Mutu bukan sekadar berkas yang lengkap saat akreditasi, mutu adalah kebiasaan akademik yang dapat dirasakan mahasiswa dan masyarakat,” demikian pesan yang disampaikan dalam sambutan tersebut.

Kedua, pengembangan kapasitas dosen dan penciptaan iklim akademik yang sehat harus menjadi perhatian. Dosen didorong untuk terus meningkatkan kualifikasi, memperluas penelitian dan publikasi, memperbarui metode pembelajaran, serta membimbing mahasiswa menjadi pemikir kritis yang menjunjung integritas.

Lingkungan kampus juga harus memberikan ruang bagi perbedaan pendapat, kritik yang sehat, serta perlindungan terhadap seluruh warga akademik dari perundungan dan diskriminasi.

Ketiga, pengembangan akademik perlu bertolak dari kebutuhan masyarakat Maluku. Sebagai wilayah kepulauan dengan kekayaan sejarah, bahasa, budaya, dan pengalaman hidup antarumat beragama, Maluku memiliki konteks yang dapat menjadi sumber pengembangan ilmu pengetahuan.

Pada saat yang sama, tantangan berupa ketimpangan akses pendidikan antarpulau, pelayanan di pulau-pulau kecil, perubahan lingkungan pesisir, dan terbatasnya kesempatan kerja bagi generasi muda perlu mendapat perhatian.

IAKN Ambon didorong mengembangkan kajian teologi, pendidikan, seni keagamaan, konseling, kepemimpinan, dan ilmu sosial yang berhubungan langsung dengan persoalan masyarakat.

LOXgVabxxsDeMBWMZCi4l14sjUJyzLYfJjbuNHKk.jpg

Keempat, tata kelola institusi harus ditopang integritas, keterbukaan, pengambilan keputusan yang adil, pengelolaan anggaran yang akuntabel, dan kolaborasi yang menghasilkan manfaat nyata.

Kemitraan dengan pemerintah daerah, gereja, sekolah, lembaga riset, dunia kerja, dan komunitas masyarakat diharapkan memperluas pengalaman belajar mahasiswa sekaligus membuka kesempatan kerja bagi lulusan.

Kementerian Agama juga mengingatkan agar penguatan institusi dilakukan melalui prioritas kerja yang realistis, terukur, dan berkelanjutan, bukan sekadar memperbanyak program atau dokumen kerja sama.

Gubernur Maluku: Lulusan harus siap menghadapi perubahan

AiHLhk0jPot8pFWKcgr2JmJOHZ0OhFbuiyYUdfqC.jpg

Gubernur Maluku, Hendrik I. Lewerissa, dalam sambutannya mengingatkan bahwa perubahan teknologi, terutama perkembangan kecerdasan buatan, menuntut masyarakat dan lembaga pendidikan mempersiapkan sumber daya manusia yang mampu beradaptasi dan bersaing.

Ia menilai perubahan global telah menyentuh berbagai aspek kehidupan sehingga perguruan tinggi tidak dapat menutup diri dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Bagi Maluku, tantangan tersebut semakin penting karena karakter wilayah kepulauan. Dalam sambutannya, gubernur menyinggung kondisi geografis Maluku yang didominasi wilayah laut, sehingga peningkatan kualitas sumber daya manusia perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan potensi daerah.

Menurut dia, lulusan perguruan tinggi di Maluku akan berhadapan dengan persaingan yang semakin luas. Karena itu, gelar akademik harus disertai kompetensi, kemampuan beradaptasi, dan tanggung jawab untuk berkontribusi bagi masyarakat.

Gubernur juga menyoroti pentingnya kesiapan menghadapi perkembangan teknologi di dunia kerja, termasuk kebutuhan alih teknologi agar tenaga kerja lokal dapat memperoleh manfaat dari investasi dan perkembangan industri.

Ia mengajak para wisudawan mempersiapkan diri untuk berbagai jalur pengabdian, baik sebagai pendidik, pelayan gereja, aparatur sipil negara, pekerja swasta, maupun profesi lainnya.

Pesan tersebut sekaligus menegaskan bahwa pendidikan tinggi tidak hanya bertujuan menghasilkan lulusan yang mampu bersaing, tetapi juga membentuk pribadi yang memiliki tanggung jawab moral dan sosial.

Atas nama Pemerintah Provinsi Maluku, Hendrik menyampaikan selamat kepada para wisudawan dan wisudawati serta apresiasi kepada orang tua dan keluarga yang telah mendukung perjalanan pendidikan mereka.

Menuju penguatan kelembagaan

Wisuda Periode II Tahun 2026 dan Dies Natalis ke-8 menjadi momentum bagi IAKN Ambon untuk mengevaluasi capaian sekaligus memperkuat arah pengembangan institusi, termasuk upaya menuju perubahan status menjadi Universitas Kristen Negeri Ambon.

Rektor Elka Anakotta menyampaikan bahwa proses pengembangan kelembagaan harus berjalan seiring dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan sinergi dengan pemangku kepentingan, serta penyesuaian terhadap perubahan kebijakan pendidikan tinggi dan efisiensi anggaran.

IAKN Ambon juga terus mendorong peningkatan kapasitas dosen. Dalam sambutannya, Elka menyebutkan seorang dosen, Nelsano Latuperissa, yang baru meraih gelar doktor dari Institut Seni Indonesia Surakarta. Selain itu, terdapat 10 dosen yang sedang menempuh pendidikan lanjutan dan sejumlah dosen yang mengikuti pengayaan bahasa untuk mempersiapkan studi lebih lanjut.

Penguatan sumber daya manusia tersebut menjadi bagian dari upaya membangun perguruan tinggi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus menjaga kualitas akademiknya.

Pesan yang mengemuka dalam rangkaian wisuda dan Dies Natalis ke-8 ini adalah pentingnya menyatukan keunggulan ilmu, nilai-nilai iman, dan tanggung jawab sosial. Bagi IAKN Ambon, tantangannya bukan hanya melahirkan lulusan yang memiliki gelar akademik, melainkan memastikan mereka mampu menggunakan pengetahuan untuk menjawab persoalan nyata dan berkontribusi bagi kemajuan Maluku, bangsa, dan masyarakat luas