Ambon, 27 Oktober 2026 — Perjuangan panjang dalam menempuh pendidikan tinggi akhirnya berbuah prestasi membanggakan. Frangky Lawendatu, lulusan Magister Musik Gereja dengan gelar M.Sn., dan Dietrick Benhard Hiskia, lulusan Sarjana Teologi dengan gelar S.Th., berhasil meraih predikat summa cumlaude dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna, 4,00.
Capaian tersebut menjadi bukti bahwa keterbatasan dan berbagai tantangan dalam perjalanan pendidikan bukanlah akhir dari perjuangan. Sebaliknya, ketekunan, doa, dukungan keluarga, dan komitmen untuk menyelesaikan pendidikan menjadi bagian penting dari perjalanan keduanya hingga mencapai hasil terbaik.
Prestasi ini bukan sekadar tentang angka pada lembar hasil studi atau gelar akademik yang disandang. Di balik IPK sempurna tersebut, terdapat proses panjang yang menuntut kesabaran, konsistensi, dan kemampuan untuk bertahan menghadapi berbagai pergumulan selama masa perkuliahan.
Bagi Frangky dan Dietrick, keberhasilan ini menjadi jawaban atas harapan yang terus dipelihara selama menempuh pendidikan. Perjalanan yang mereka lalui menunjukkan bahwa keberhasilan akademik tidak hadir secara instan, melainkan melalui usaha yang berkelanjutan dan kesungguhan dalam menjalani setiap tahapan pendidikan.
Dukungan orang tua dan keluarga juga menjadi bagian penting dalam perjalanan tersebut. Doa, perhatian, serta semangat yang diberikan keluarga menjadi sumber kekuatan untuk terus melangkah ketika proses pendidikan terasa berat.
Keberhasilan keduanya sekaligus menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan hanya tentang kemampuan intelektual, tetapi juga tentang ketangguhan menghadapi tantangan dan kesediaan untuk terus bertumbuh.
Predikat summa cumlaude dengan IPK 4,00 yang diraih Frangky Lawendatu dan Dietrick Benhard Hiskia diharapkan tidak berhenti sebagai pencapaian pribadi. Ilmu pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman yang diperoleh selama pendidikan dapat menjadi bekal untuk memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, gereja, dan dunia pendidikan.
Bagi Frangky, capaian pada bidang Musik Gereja membuka ruang untuk terus mengembangkan pengetahuan dan praktik musik dalam pelayanan serta kehidupan bergereja. Sementara itu, bagi Dietrick, pendidikan teologi menjadi bekal untuk memperdalam pemahaman iman dan menerapkannya dalam pelayanan serta kehidupan bermasyarakat.
Kisah keduanya membawa pesan sederhana, tetapi bermakna: keterbatasan bukan alasan untuk menyerah, dan perjalanan yang panjang bukan penghalang untuk mencapai tujuan. Dengan ketekunan, doa, dan dukungan orang-orang terdekat, perjuangan dapat berbuah menjadi prestasi yang membanggakan.
Keberhasilan Frangky dan Dietrick menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus berjuang menyelesaikan pendidikan, menjaga semangat belajar, dan menjadikan setiap tantangan sebagai kesempatan untuk bertumbuh.
Sebab, pada akhirnya, keberhasilan bukan hanya tentang seberapa tinggi gelar yang diraih, melainkan juga tentang proses yang dijalani, nilai yang dipelajari, serta manfaat yang dapat diberikan bagi sesama.
Penulis : Thobias Rahalus