AMBON — Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mulai mengubah cara manusia berkarya, bekerja, dan membangun peluang usaha. Di tengah perkembangan ekonomi digital, kreativitas di bidang seni musik tidak lagi hanya menjadi ruang ekspresi, tetapi juga berpotensi menjadi sumber pendapatan apabila dikembangkan dengan pemanfaatan teknologi secara tepat.
Melihat peluang tersebut, Fakultas Seni Keagamaan Kristen Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Ambon menggelar kuliah umum bertema “From AI to Income: Memanfaatkan Kecerdasan Buatan untuk Menciptakan Peluang Ekonomi Baru”, Selasa (29/9/2026). Kegiatan ini menghadirkan Prof. Wilma Latuny, S.T., M.Si., M.Phil., Ph.D., dan Feky Reken, S.E., M.M., sebagai pemateri.
Kuliah umum yang diikuti sekitar 150 mahasiswa Program Studi Musik Gereja dan Pendidikan Seni Musik ini turut dihadiri para pimpinan di lingkungan IAKN Ambon, dosen, serta tenaga kependidikan Fakultas Seni Keagamaan Kristen.
Rektor IAKN Ambon, Dr. Elka Anakotta, S.Si., M.Si., dalam sambutannya mengatakan, penguasaan teknologi kecerdasan buatan menjadi penting bagi mahasiswa dalam menghadapi perubahan dunia kerja dan perkembangan ekonomi digital.

Menurut Elka, AI bukan sekadar teknologi yang harus dipahami, melainkan juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk membangun kemandirian ekonomi sejak dini. Karena itu, mahasiswa perlu mengembangkan kreativitas, kemampuan beradaptasi, serta keterampilan digital agar mampu menghadapi perubahan dan menciptakan peluang baru.
Ia berharap materi yang disampaikan kedua pemateri dapat menginspirasi mahasiswa untuk memperkuat portofolio digital dan mengembangkan kreativitas seni menjadi karya yang memiliki nilai ekonomi.
Sementara itu, Ketua Panitia Pravasta Maulani, M.Sn., dalam laporannya menjelaskan bahwa tema kuliah umum tersebut dipilih untuk mempertemukan kreativitas manusia, khususnya di bidang seni musik, dengan perkembangan teknologi kecerdasan buatan.

Menurut Pravasta, perkembangan teknologi digital telah menghadirkan berbagai kemudahan dalam proses penciptaan dan produksi musik. Kondisi ini membuka peluang bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensi seni sekaligus menjajaki berbagai bentuk usaha kreatif.
Oleh sebab itu, mahasiswa Fakultas Seni Keagamaan Kristen tidak cukup hanya memiliki kemampuan bermusik, tetapi juga perlu dibekali literasi digital, kemampuan berinovasi, keberanian berwirausaha, serta kesadaran etis dalam memanfaatkan teknologi.
Ia berharap mahasiswa dapat melihat bahwa karya musik tidak hanya memiliki nilai artistik, tetapi juga berpotensi menghasilkan nilai ekonomi apabila dikelola secara kreatif dan profesional. Mahasiswa juga didorong untuk tidak berhenti pada pertanyaan tentang apa yang dapat dilakukan dengan teknologi, tetapi mulai memikirkan apa yang dapat mereka ciptakan melalui teknologi tersebut.

Melalui kuliah umum ini, IAKN Ambon berupaya memperkuat kapasitas mahasiswa dalam menghadapi transformasi digital, sekaligus mendorong lahirnya inovasi dan kewirausahaan berbasis seni. Dengan demikian, mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan keterampilan bermusik, memanfaatkan AI secara kreatif dan bertanggung jawab, serta menciptakan peluang ekonomi baru yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.