Selamat datang di website kami
Beranda / Berita / Dekan FISK: Jurnalis Tak Cukup Hanya Pandai Menulis, Etika dan Integritas Jadi Fondasi Utama
Umum 03 November 2026 20 dilihat

Dekan FISK: Jurnalis Tak Cukup Hanya Pandai Menulis, Etika dan Integritas Jadi Fondasi Utama

Dekan FISK: Jurnalis Tak Cukup Hanya Pandai Menulis, Etika dan Integritas Jadi Fondasi Utama

AMBON – Sebuah berita tidak sekadar menyampaikan rangkaian informasi kepada publik. Di balik setiap kata yang ditulis, terdapat tanggung jawab besar untuk memastikan kebenaran, menjaga kepercayaan, dan menghadirkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Pesan inilah yang ditekankan Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Komunikasi (FISK), Dr. Sipora B. Warella, M.Pd.K., saat memberikan arahan dalam kegiatan pembelajaran jurnalistik yang diselenggarakan Program Studi Ilmu Komunikasi, Jumat (30/10/2026), bertempat di Ruang Multimedia FISK.

Dalam arahannya, Warella mengingatkan bahwa kemampuan menulis bukan satu-satunya modal yang harus dimiliki seorang jurnalis. Lebih dari itu, seorang wartawan dituntut memiliki integritas, daya kritis, serta tanggung jawab dalam mengolah dan menyampaikan informasi kepada masyarakat.

Menurut Warella, kegiatan pembelajaran jurnalistik tersebut harus dimanfaatkan mahasiswa sebagai kesempatan untuk mengembangkan potensi sekaligus membangun kompetensi diri, terutama dalam menghadapi tantangan dunia jurnalistik yang terus berkembang.

“Setiap orang memiliki kompetensi. Karena itu, kemampuan tersebut harus terus dikembangkan. Dunia jurnalistik akan menguji kemampuan kita untuk berpikir kritis dan bertanggung jawab,” ujarnya.

YMmL7yPNAHIPey9uS20UoKVfauMVx5ejAkEEzJ3f.jpg

Ia menegaskan, etika jurnalistik merupakan fondasi utama dalam menjalankan profesi kewartawanan. Sebab, kualitas sebuah berita tidak hanya diukur dari kecepatan penyampaian informasi, tetapi juga dari akurasi, kredibilitas, dan tanggung jawab dalam proses pemberitaannya.

Seorang jurnalis, lanjutnya, harus mampu memastikan setiap informasi yang disampaikan kepada publik telah melalui proses yang benar sehingga tidak menyesatkan dan tetap menjaga kepercayaan masyarakat.

Dalam konteks perkembangan teknologi informasi saat ini, tantangan dunia jurnalistik semakin kompleks. Arus informasi yang bergerak cepat melalui berbagai platform digital menuntut jurnalis memiliki kemampuan memilah, memeriksa, dan memastikan kebenaran informasi sebelum dipublikasikan.

Kondisi tersebut sekaligus menjadi pengingat bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi bahwa menjadi jurnalis profesional membutuhkan lebih dari sekadar keterampilan merangkai kata. Kemampuan melakukan verifikasi, memahami persoalan dari berbagai sudut pandang, serta menyajikan informasi secara berimbang merupakan bagian penting dari praktik jurnalistik.

Warella juga mendorong mahasiswa agar memanfaatkan kesempatan belajar bersama para pemateri yang memiliki pengalaman dan wawasan di bidang jurnalistik. Pengalaman tersebut diharapkan dapat memperluas perspektif mahasiswa sekaligus memberikan gambaran nyata mengenai tantangan dan praktik profesi jurnalis.

Ia berharap, proses pembelajaran seperti ini dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengenali kemampuan diri, membangun kepercayaan diri, serta mempersiapkan kompetensi yang dibutuhkan ketika nantinya terjun ke tengah masyarakat dan dunia profesional.

Sementara itu, kegiatan diawali dengan laporan panitia yang disampaikan Sekretaris Program Studi Ilmu Komunikasi, Farhan Wailussy, S.Sos., M.A., yang mewakili ketua panitia.

Dalam laporannya, Wailussy menjelaskan bahwa kegiatan tersebut bertujuan memberikan pemahaman kepada mahasiswa mengenai standar profesi dan etika jurnalistik, sebagai bekal penting sebelum terjun ke dunia kerja maupun praktik kewartawanan.

Menurutnya, pemahaman terhadap etika dan standar profesi menjadi hal mendasar agar mahasiswa tidak hanya mengetahui bagaimana sebuah berita ditulis, tetapi juga memahami prinsip-prinsip yang harus dijaga dalam setiap tahapan kerja jurnalistik.

Kegiatan ini diikuti mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi dengan menghadirkan Tajudin Aji sebagai pemateri. Kehadiran pemateri diharapkan dapat memberikan wawasan, pengalaman, dan inspirasi kepada mahasiswa dalam memahami praktik jurnalistik secara profesional.

Melalui pemaparan materi dan proses pembelajaran tersebut, mahasiswa diharapkan memperoleh gambaran lebih luas mengenai dunia kewartawanan, termasuk bagaimana membangun berita yang memiliki nilai informasi, memenuhi standar jurnalistik, serta berpihak pada kepentingan publik melalui penyampaian fakta secara benar.

pWV7rFWuzOc9D4N5LlMF9AXoIEZdjSXVW19r36FA.jpg

Selain menjadi sarana peningkatan pengetahuan, kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya mempertemukan teori yang diperoleh mahasiswa di ruang perkuliahan dengan pemahaman mengenai praktik jurnalistik di lapangan. Dengan demikian, mahasiswa dapat membangun kesiapan untuk menghadapi dinamika profesi komunikasi dan media yang semakin kompetitif.

Pada akhirnya, mahasiswa tidak hanya diharapkan mampu menghasilkan berita yang menarik dan informatif, tetapi juga memahami bahwa setiap karya jurnalistik mengandung tanggung jawab terhadap publik.

Sebab, di tengah derasnya arus informasi dan kemudahan setiap orang memproduksi konten, kepercayaan masyarakat menjadi hal yang sangat berharga. Untuk menjaganya, jurnalis harus konsisten menjadikan kebenaran, etika, independensi, dan integritas sebagai pedoman dalam bekerja.

Jurnalisme bukan semata-mata tentang siapa yang paling cepat menyampaikan berita, melainkan siapa yang mampu menghadirkan informasi secara akurat, berimbang, dan bertanggung jawab.