AMBON — Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Kristen (FIPK) Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Ambon, Dr. Onisimus Amtu, S.Yh., M.Pd., membuka secara resmi Workshop Teknologi Pendidikan yang diselenggarakan Program Studi Teknologi Pendidikan, Rabu (23/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 23–24 September 2026, tersebut digelar di Rumah Moderasi IAKN Ambon dan diikuti mahasiswa Program Studi Teknologi Pendidikan secara luring dan daring. Workshop menghadirkan tiga narasumber, yakni Prof. Dr. Andi Kristanto, S.Pd., M.Pd., Marsye Fera Kalahatu, S.E., M.Si., dan Dr. Made Duananda Kartika Degeng, S.Pd., M.Pd.
Dalam arahannya, Onisimus menegaskan bahwa workshop tidak boleh dipandang sebagai kegiatan akademik rutin, melainkan sebagai ruang untuk membentuk keterampilan dan kompetensi mahasiswa agar mampu menghadapi kebutuhan dunia kerja dan masyarakat.
Menurutnya, mahasiswa Teknologi Pendidikan tidak cukup hanya menguasai teori, tetapi juga harus memiliki keterampilan untuk merancang dan mengembangkan pembelajaran yang relevan dengan perkembangan zaman.
“Workshop seperti ini bukan sekadar kegiatan rutinitas. Kegiatan ini dirancang untuk membentuk keterampilan dan kemampuan mahasiswa sehingga dapat mengembangkan diri serta meningkatkan kualitas dan kompetensinya,” ujar Onisimus.

Ia mengatakan, kompetensi lulusan akan diuji ketika mereka berada di tengah masyarakat. Masyarakat, kata dia, tidak hanya melihat latar belakang pendidikan seseorang, tetapi juga apa yang dapat diberikan dan dibagikan.
“Ketika berada di masyarakat, orang tidak lagi bertanya Anda belajar apa, tetapi apa yang Anda miliki dan apa yang dapat Anda bagikan,” katanya.
Karena itu, Onisimus menilai kualitas lulusan tidak hanya ditentukan oleh kurikulum yang dirancang perguruan tinggi. Kualitas tenaga pengajar, pengalaman belajar mahasiswa, serta berbagai kegiatan pengembangan kompetensi seperti workshop dan diskusi juga memiliki peran penting dalam membentuk kualitas lulusan.
Ia juga mengingatkan bahwa kemampuan merancang pembelajaran harus diikuti kemampuan menciptakan ekosistem belajar yang baik. Menurutnya, desain pembelajaran yang baik tidak akan berjalan optimal apabila tidak didukung suasana belajar yang mampu menciptakan interaksi positif antara pendidik dan peserta didik.
“Pembelajaran yang baik harus menciptakan ekosistem belajar yang baik. Guru mungkin memiliki kemampuan merancang pembelajaran, tetapi jika dalam implementasinya tidak mampu menciptakan ekosistem belajar yang baik, pembelajaran tidak akan berjalan secara optimal,” ujarnya.
Menurut Onisimus, pendidik perlu mampu memadukan metode, desain pembelajaran, dan suasana belajar agar peserta didik tidak hanya memahami materi, tetapi juga merasa nyaman dan mampu mengembangkan keterampilan.
Ia meminta mahasiswa memanfaatkan workshop tersebut untuk belajar langsung dari para narasumber. Selama dua hari, peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga diarahkan untuk berdiskusi dan bekerja dalam kelompok sehingga memperoleh pengalaman praktis.
Onisimus juga mendorong mahasiswa membangun budaya kolaborasi dengan saling berbagi pengetahuan dan pengalaman.
“Siapa yang memiliki kelebihan dapat berbagi dengan yang lain, dan teman-teman juga diharapkan dapat bertanya sebanyak-banyaknya kepada para narasumber,” katanya.
Workshop tersebut menjadi bagian dari upaya FIPK IAKN Ambon memperkuat kompetensi mahasiswa Program Studi Teknologi Pendidikan, terutama dalam menghadapi perkembangan pembelajaran dan kebutuhan dunia kerja.

Mengakhiri arahannya, Dr. Onisimus Amtu, S.Yh., M.Pd., secara resmi membuka Workshop Teknologi Pendidikan dan berharap seluruh rangkaian kegiatan dapat dimanfaatkan mahasiswa untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, serta kemampuan berkolaborasi.
“Kiranya kegiatan selama dua hari ini dapat berlangsung dengan baik dan memberikan sesuatu yang berharga bagi mahasiswa,” ujarnya.