[INFORMASI] Edaran Cuti Bersama - 16 Sep 2026 00:00 • [INFORMASI] Pengumuman Penjaringan Bakal Calon Wakil Rektor, Dekan, Wakil Dekan, Direktur, Wakil Direktur, Ketua Program Studi, Ketua Lembaga, Kepala UPT dan Kepala SPI IAKN Ambon Periode 2026 - 2030 - 22 May 2026 00:00 • [PENTING] Pengumuman Peniaringan Bakal Calon Wakil Rektor, Dekan, Wakil Dekan, DireKur, Wakil Direktur, Ketua Program Studi, Ketua Lembaga dan Kepala UPT IAKN Ambon Periode 2026 - 2030 - 21 May 2026 00:00 •
Beranda / Berita / Bastori Teologi FISK IAKN Ambon Bahas “Cinta dan Generasi Muda” di Era Digital
Umum 30 September 2026 19 dilihat

Bastori Teologi FISK IAKN Ambon Bahas “Cinta dan Generasi Muda” di Era Digital

Bastori Teologi FISK IAKN Ambon Bahas “Cinta dan Generasi Muda” di Era Digital

AMBON — Cinta merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan generasi muda. Namun, di tengah perkembangan teknologi dan media sosial, cara anak muda membangun hubungan juga mengalami perubahan. Komunikasi yang dahulu lebih banyak berlangsung secara langsung kini berpindah ke ruang digital, yang di satu sisi memudahkan interaksi, tetapi di sisi lain menghadirkan persoalan baru dalam relasi.

Kondisi inilah yang menjadi salah satu alasan Fakultas Ilmu Sosial Keagamaan Kristen (FISK) IAKN Ambon mengangkat tema “Cinta dan Generasi Muda” dalam kegiatan Bastori Teologi, Rabu (30/9/2016).

Kegiatan yang diikuti mahasiswa Program Studi Teologi tersebut menjadi ruang diskusi kritis untuk membicarakan persoalan cinta, pacaran, relasi yang sehat, kekerasan berbasis gender online, hingga kesiapan generasi muda dalam membangun kehidupan bersama di masa depan.

Dekan FISK IAKN Ambon, Dr. Sipora B. Warella, S.Ag., M.Pd.K, saat membuka kegiatan mengatakan, tema cinta dan generasi muda memang terlihat sederhana karena sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Namun, justru karena dekat dengan kehidupan generasi muda, persoalan tersebut perlu dibicarakan secara serius dan kritis.

Menurutnya, perkembangan teknologi dan media sosial telah membawa perubahan dalam pola komunikasi dan relasi antarmanusia. Mahasiswa saat ini tidak hanya berkomunikasi secara langsung, tetapi juga menggunakan berbagai platform digital seperti WhatsApp, TikTok, dan media sosial lainnya.

wEdwIjU9pSfGBvIU7gDvqPrOHfYG7sS5j4cOZdOt.jpg

Kemudahan komunikasi tersebut, kata dia, tidak terlepas dari berbagai dampak yang perlu diwaspadai, termasuk intimidasi melalui media digital, penyalahgunaan informasi, hingga kekerasan berbasis gender online.

Karena itu, mahasiswa perlu memiliki pemahaman mengenai bagaimana membangun relasi yang sehat, khususnya dalam hubungan pacaran.

“Relasi yang tidak sehat tidak dibangun atas dasar kontrol, ancaman, manipulasi, atau kekerasan,” demikian pesan yang ditekankan dalam kegiatan tersebut.

Ia juga mengingatkan mahasiswa agar cinta tidak menjadi alasan untuk menghilangkan batas pribadi seseorang. Setiap individu memiliki martabat yang harus dihormati, termasuk dalam hubungan pacaran.

Dalam perspektif Kristen, penghormatan terhadap sesama menjadi bagian penting dalam membangun relasi. Cinta semestinya menghadirkan penghargaan, rasa aman, kebebasan yang bertanggung jawab, serta kepedulian terhadap kehidupan dan masa depan pasangan.

Selain membahas relasi yang sehat, Bastori Teologi juga mengajak mahasiswa melihat kembali makna kesiapan dalam sebuah hubungan. Kesiapan menuju kehidupan bersama tidak cukup hanya didasarkan pada perasaan cinta.

Mahasiswa diajak untuk mempertanyakan apakah dirinya dan pasangan memiliki kematangan serta kesetiaan untuk membangun kehidupan bersama secara bertanggung jawab.

Kesiapan tersebut mencakup kematangan emosional, kemampuan berkomunikasi, kemampuan menyelesaikan konflik, serta kesiapan menerima berbagai perbedaan yang mungkin muncul dalam hubungan.

Dengan demikian, pacaran tidak hanya dipandang sebagai hubungan emosional, tetapi juga sebagai ruang belajar bagi generasi muda untuk mengenal diri dan pasangan, menghargai batas pribadi, membangun komunikasi yang sehat, serta mempersiapkan kehidupan keluarga di masa depan.

Untuk memperkaya pembahasan, Bastori Teologi menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang, yakni Mience H. Ubro, S.Hut., M.Si., yang mewakili Kepala BKKBN Provinsi Maluku; Gilberth Pattihahuan, S.K.M., Ketua Forum Genre Maluku; serta Valend D.J. Sahureka, S.Par, yang merupakan alumni.

Kehadiran para narasumber tersebut memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk melihat persoalan cinta dan generasi muda dari berbagai perspektif, sekaligus menghubungkan materi diskusi dengan realitas yang mereka jumpai dalam kehidupan sehari-hari.

B1eVkqXkExpSjNEgqJ8uycu6DG4Bcu2XiHcKEXnQ.jpg

Bastori Teologi yang telah memasuki pelaksanaan keenam ini diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh mahasiswa diharapkan dapat menjadi bekal dalam membaca berbagai persoalan sosial, membangun relasi yang sehat, serta mengambil keputusan secara dewasa dan bertanggung jawab.

Dekan FISK IAKN Ambon juga mendorong mahasiswa untuk menjadikan setiap kegiatan Bastori sebagai ruang belajar yang dapat memperluas wawasan dan kepekaan terhadap berbagai realitas kehidupan.

Sebab, menurutnya, kematangan seorang mahasiswa tidak hanya diukur dari keberhasilan akademik atau nilai yang diperoleh dalam perkuliahan, tetapi juga dari kemampuan memahami kehidupan, menghargai sesama, serta memiliki kedalaman wawasan dalam menghadapi berbagai persoalan.

Melalui Bastori Teologi bertema “Cinta dan Generasi Muda”, FISK IAKN Ambon ingin membuka ruang bagi mahasiswa untuk memahami bahwa cinta bukan sekadar persoalan perasaan atau hubungan antara dua orang. Cinta juga berkaitan dengan penghormatan terhadap martabat manusia, tanggung jawab, batas pribadi, kematangan, dan kesiapan menata masa depan.q0kdQ47kCGC6JHoAUWoCuziImZvw3CrmkR9o6IXW.jpg